Minggu, 30 Oktober 2011

BERSANDAR PADA PILAR - PILAR

karya: Abdul Wachid B.S


Ada masanya
Tatkala lalu seorang tua dengan senyum beracun
Setelah jaman Soekarno dan para petani itu
Ratusan orang membentuk lingkaran penonton 
Ratusan orang sekaligus memainkan peran 
Mereka berlatih teater di antara
Tangga-tangga gedung rakyat 
Bukan demonstrasi
Tapi guru dan dosen latihan teatrikalisasi puisi 
Tentang teratai hidup di rawa-rawa
Tentang senasib terjerembab di rawa-rawa
Mereka mendadak menjelma penyair 
Minum angan dari kenyataan 
Menelan buah kepahitan
          Seseorang menguak keramaian 
Dengan mengutip Anton Chekov
"Jika bangsa inginkan peradaban
Sejahterakan guru"
“Gaji kami bagai cacing kepanasan
Perut kosong, mata kunang-kunang
Hidup kami cukup tahu diri
Tak nuntut yang bukan-bukan”
Matahari menjadi latar
Langit bening kebiruan digelar
Sebuah puisi
Melebihi seribu kavaleri
Tapi dari kerumunan itu
Oemar Bakri dengan sepeda kumbangnya
Bertuliskan, "Dijual cepat dan murah
Untuk mengembalikan gaji
Lantaran mengundurkan diri 
Sebab mengikuti tugas istri ke lain propinsi"
Orang-orang ribut
Tapi bukan untuk berdebat
Orang-orang ribut
Justru buat sepakat
“Interupsi!
Bagaimana mungkin
Buruh bekerja, mengembalikan keringat upahnya?”
Aisiah, gadis Yogya dari Gadjah Mada 
Dalam teka-teki hatinya bertanya : 
Bukankah beri upah buruhmu sebelum kering keringat 
Tapi kenapa keringat telah berlarat
Hanya lantaran undurkan diri 
Seorang dosen dipaksa kembalikan upah keringatnya?
"Astaga! Ini lebih jahil dari Abu Jahal!" 
gerutu seorang wartawan 
"Di mana itu?"
“Di satu universitas yang mengatasnamakan umat”
Orang-orang ribut
Tapi bukan untuk berdebat
Orang-orang ribut
Justru buat sepakat
Kami bukan bunga bangkai
Tapi kembang teratai
Kami bukan nyebar kata bangkai
Tapi nuntut manusiawi yang tergadai
Sungguh gedung rakyat menjelma teater 
Dan sejernih wajah bocah 
Guru merasa penyair 
Semoga sajak bukan menambah darah
Aisiah masih bersandar pada pilar-pilar
Ia tak mengerti
Tapi mencoba mengangguk pasti
Dan langit merekam segala itu dalam 
Gerimis yang gemetar 
Sementara itu berdentangan penonton lain
Berlapis barikade dengan 
Gas airmata dan pentungan
Tangan-tangan lalu angkat tangan
Membentuk lingkaran 
"Mari bersulang!”
”Untuk guru kita?".“Bukan!”
“Untuk politisi?”.”Bukan?”
”Untuk polisi?” .“Bukan!”
”Untuk penyair?”.”Apalagi!”
”Habis untuk apa?”.“Untuk teratai.


Puisi Karya 'Chairil Anwar'

PRAJURIT JAGA MALAM

karya: Chairil Anwar


Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
Bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
Kepastian
Ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !



AKU

karya: Chairil Anwar


Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi


Puisi Karya 'WS Rendra'

Sabtu, 29 Oktober 2011


KENANGAN DAN KESEPIAN
karya: WS Rendra

Rumah tua
Dan pagar batu
Langit di desa
Sawah dan bambu
Berkenalan dengan sepi
Pada kejemuan disandarkan dirinya
Jalanan berdebu tak berhati
Lewat nasib menatapnya
Cinta yang datang
Burung tak tergenggam
Batang baja waktu lengang
Dari belakang menikam
Rumah tua
Dan pagar batu
Kenangan lama
Dan sepi yang syahdu




KANGEN
karya: WS Rendra

Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
Menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
Kau tak akan mengerti segala lukaku
Karena luka telah sembunyikan pisaunya.
Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.
Apabila aku dalam kangen dan sepi
Itulah berarti
Aku tungku tanpa api




RUMPUN ALANG - ALANG
karya: WS Rendra
Engkaulah perempuan terkasih, yang sejenak kulupakan, sayang
Kerna dalam sepi yang jahat tumbuh alang-alang di hatiku yang malang
Di hatiku alang-alang menancapkan akar-akarnya yang gatal
Serumpun alang-alang gelap, lembut dan nakal
Gelap dan bergoyang ia
Dan ia pun berbunga dosa
Engkau tetap yang punya
Tapi alang-alang tumbuh di dada