Puisi

Senin, 19 September 2011

Contoh Puisi + Citraanya

C I N T A

Kau bukanlah zat yang berwujud  [Citraan Penglihatan]
Tak dapat dilihat  [Citraan Penglihatan]
Tak dapat diraba  [Citraan Peraba]
Tak dapat didengar  [Citraan Pendengaran]
Kau hanya dapat dirasakan dengan hati yang tulus  [Citraan Perasaan]
Setiap orang memilikimu  [Citraan Perasaan]
Namun tidak setiap orang mengertimu  [Citraan Perasaan]
Dihati mereka kau bersemayam  [Citraan Perasaan]
Untuk kemudian disampaikan  [Citraan Perasaan]
Lewat kata-kata indah yang menyentuh kalbu  [Citraan Perasaan]
Kau membutakan mata  [Citraan Penglihatan]
Kau menulikan telinga  [Citraan Pendengaran]
Menghalalkan yang haram  [Citraan Perasaan]
Membenarkan yang salah  [Citraan Perasaan]
          Manisnya cinta kan selalu ada  [Citraan Pencecapan]
          Jika hati saling bersatu  [Citraan Perasaan]
          Harumnya cinta tak kan pernah musnah  [Citraan Penciuman]
          Jika hati bisa saling memahami  [Citraan Perasaan]
Engkau bagaikan bunga yang kokoh  [Citraan Penglihatan]
Bunga yang akan terus tetap menari  [Citraan Kinaestetik]
Tetap tegar walaupun dihempas angin  [Citraan Penglihatan]
Begitupun cinta  [Citraan Perasaan]
Akan tetap bersatu dalam balutan kasih [Citraan Perasaan]


Contoh Prosa Liris + Citraannya

DIA TELAH DATANG SEJAK LAMA

Dia telah menyapamu dengan lembut, lewat deru angin yang membadai. Menyentuh hatimu dengan perlahan, lewat empasan topan yang menderu. Tapi bahasa itu terlalu gelap bagi hati dan jiwa yang membatu. Terlalu lirih bagi sukma yang gagap. Membaca berbagai makna perlambang. Dia telah datang ke lubuk jiwamu. Berkata dengan kalimat yang jernih. Lewat bumi yang bergetar oleh dosa dan suara kebenaran yang tak dibenarkan.
Dia telah datang dengan halusnya. Lewat angin, topan dan badai. Lewat bumi yang bergoyang dan isi lautan yang tumpah-ruah. Tetapi bahasa itu telah lama terlupakan dan kita gagap membaca isyarat alam. Dia telah datang, berbicara, dan menyentuh dengan kasih. Tetapi kita sudah terlalu lama. Tak lagi bisa memahami tanda – tanda. Dia telah datang sejak lama. Begitu lembut, begitu tenang. Sampai kita tak lagi sanggup, menanggungkan bahasa Tuhan.

DIA TELAH DATANG SEJAK LAMA

Dia telah menyapamu dengan lembut,       
Larik puisi diatas menggunakan citraan penglihatan, karena dari kata ”menyapamu” dapat dilihat bahwa  penulis menggambarkan dalam keadaan bertemu, jadi termasuk citraan penglihatan.
Lewat deru angin yang membadai
Larik puisi tersebut seharusnya termasuk citraan perasaan, karena angin hanya bisa dirasakan. Namun pada kata ”deru angin” menggambarkan sebuah suara angin yang sangat besar, jadi termasuk citraan pendengaran.
Menyentuh hatimu dengan perlahan,
Larik puisi tersebut seharusnya termasuk dalam citraan perabaan, namun yang dimaksudkan dari kata ”menyentuh” bukanlah menyentuh dengan indera peraba, namun menggambarkan kalau hati mampu merasakannya. Jadi termasuk citraan perasaan.
Lewat hempasan topan yang menderu
Larik puisi diatas menggunakan citraan perasaan, karena pada kata “hempasan topan” yang menggambarkan bahwa hempasan itu dapat dirasakan, jadi termasuk citraan perasaan.
Tapi bahasa itu terlalu gelap
Larik puisi diatas menggunakan citraan penglihatan, terbukti dari kata “gelap” menggambarkan bahwa benda itu tidak kelihatan oleh mata, jadi termasuk citraan penglihatan.
Bagi hati dan jiwa yang membatu
Larik puisi tersebut seharusnya termasuk dalam citraan penglihatan, kerena terdapat kata ”batu” yang bisa dilihat oleh mata. Namun yang menjadi inti adalah pada kata ”hati dan jiwa” yang menggambarkan tentang hati yang bisa merasakan. Jadi termasuk citraan perasaan.
Terlalu lirih bagi sukma yang gagap
Larik puisi diatas menggunakan citraan perasaan, terbukti dari kata “lirih bagi sukma” menggambarkan keadaan dimana sukma/hati merasakan suatu yang sensitif. Jadi termasuk citraan perasaan.
Membaca berbagai makna perlambang
Larik puisi diatas menggunakan citraan penglihatan, karena pada kata “membaca” berarti dalam keadaan melihat, jadi termasuk citraan penglihatan.
Dia telah datang ke lubuk jiwamu
Larik puisi diatas menggunakan citraan perasaan, karena pada kata ”lubuk jiwamu” Penulis menggambarkan bahwa keadaan itu berada dalam hati  yang berhungan dengan perasaan manusia, jadi termasuk citraan perasaan.
Berkata dengan kalimat yang jernih
Larik puisi diatas menggunakan citraan perasaan, karena pada kata ”berkata” berasal dari hati yang diungkapkan lewat mulut, namun berhubungan dengan  perasaan. Jadi termasuk citraan perasaan
Lewat bumi yang bergetar oleh dosa
Larik puisi diatas menggunakan citraan perasaan, karena pada kata ”bergetar” merasa seolah-olah bergetar sungguhan, namun itu adalah makna konotatif. Maksud sebenarnya adalah telah dikelilingi/mendapat dosa. Jadi termasuk citraan perasaan
Dan suara kebenaran yang tak dibenarkan
Larik puisi diatas menggunakan citraan pendengaran. Hal ini sangat jelas pada kata ”suara” yang menggunakan indera pendengaran, jadi termasuk citraan pendengaran
Dia telah datang dengan halusnya
Larik puisi diatas menggunakan citraan peraba, karena pada kata ”halus” dapat dirasakan dengan indera peraba, yakni kulit. Dengan demikian, dapat merasakan sesuatu yang halus. Jadi termasuk citraan perabaan.  
Lewat angin, topan dan badai
Larik puisi diatas menggunakan citraan perasaan. Karena angin, topan, dan badai hanya dapat dirasakan, meskipun bukan menggunakan hati, namun menggunakan kulit. Jadi termasuk citraan perasaan.
Lewat bumi yang bergoyang
Larik puisi tersebut termasuk dalam citraan gerak (kinaestetik), karena pada kata ”bergoyang” menggambarkan sesuatu yang sedang bergerak yakni bencana yang besar, misalnya yaitu gempa (konotatif). Jadi termasuk citraan kinaestetik. 
Dan isi lautan yang tumpah-ruah
Larik puisi diatas termasuk dalam citraan penglihatan, terbukti pada kata ”tumpah-ruah” yang menggambarkan suatu keadaan yang tidak beraturan, yang berjatuhan. Karena dapat dilihat, jadi termasuk citraan penglihatan.
Tetapi bahasa itu telah lama terlupakan
Larik puisi diatas menggunakan citraan perasaan, karena pada kata ”lama terlupakan” mempunyai arti sudah sejak dahulu telah melupakan dan kata itu berhubungan dengan jiwa dan perasaan, jadi temasuk citraan perasaan.
Dan kita gagap membaca isyarat alam
Larik puisi diatas menggunakan citraan perasaan, terbukti pada kata ”isyarat alam” yang mempunyai arti konotatif, namun dalam artian umum kata itu datang seolah-olah mengisyaratkan slam ini. Jadi termasuk citraan perasaan.
Dia telah datang, berbicara,
Larik puisi diatas menggunakan citraan penglihatan. Meskipun dalam kata ”berbicara” bukanlah merupakan citraan penglihatan. Dapat dilihat dari kata ”datang” yang menggambarkan bahwa ada yang mendatangi dihadapannya. Karena menggunakan indera mata untuk melihat, jadi termasuk citraan penglihatan.
Dan menyentuh dengan kasih
Larik puisi tersebut seharusnya termasuk dalam citraan perabaan, namun yang dimaksudkan dari kata ”menyentuh” bukanlah menyentuh dengan indera peraba, namun menggambarkan kalau hati mampu merasakannya dengan kasih sayang. Jadi termasuk citraan perasaan.
Tetapi kita sudah terlalu lama
Larik puisi diatas menggunakan citraan perasaan, buktinya dapat dilihat pada semua kata, yang berisi bahwa penulis menggambarkan seseorang merasa sudah lama dan membuat gelisah, jadi termasuk citraan perasaan.
Tak lagi bisa memahami tanda – tanda
Larik puisi diatas menggunakan citraan perasaan. Terbukti pada semua kata yang berisi tentang ketidak mampuannya seseorang untuk memahami suatu kejadian – kejadian. Berarti menggambarkan suasana hati seseorang, sehingga termasuk dalam citraan perasaan.
Dia telah datang sejak lama,
Larik puisi diatas menggunakan citraan perasaan. Penulis menggambarkan seolah-olah menganggap seseorang sudah datang sejak lama dan perasaannya berkata demikaian, jadi menggunakan citraan perasaan.
Begitu lembut, begitu tenang,
Larik puisi diatas menggunakan citraan peraba perasa. Terbukti pada kata ” lembut” dan ”tenang” menggambarkan perasaan seseorang yang sedang mengalami suasana yang Sangat nyaman dan aman. Jadi larik ini menggunakan citraan perasaan.
Sampai kita tak lagi sanggup
Larik puisi diatas menggunakan citraan perasaan. Terbukti pada kalimatnya, yang menggambarkan tentang akhir dari tak mampunya seseorang dalam sesuatu, dan larik itu mengungkapkan dengan hati, jadi termasuk citraan perasaan.
Menanggungkan bahasa Tuhan
Larik puisi diatas menggunakan citraan perasaan, karena pada kata ”bahasa Tuhan”, merasa bahwa bahasa tuhan itu sangat dalam, dan menggambarkan ketidak mampuan seseorang untuk menanggungkan bahasa Tuhan, jadi termasuk citraan perasaan

Kesimpulan :
Puisi yang berjudul ’Dia telah datang sejak lama’ berisi tentang perasaan seorang manusia terhadap keberadaan Tuhan yang selama ini menganggapnya sebagai omong kosong, namun pada kenyataannya, manusia tidak mengetahui kebesaran dan keagunganNya. Dalam Puisi ini juga dijelaskan bahwa manusia sudah diingatkan dengan tanda-tanda atau kejadian alam yang ada, agar manusia itu sadar bahwa hidup didunia ini hanya sementara, dan akhirnya juga akan kembali pada kuasaNya.

Sumber : Raka Afzha

0 komentar:

Posting Komentar